Alun-alun Manonjaya dipenuhi ribuan warga pada pagi Idul Fitri 1447H. Suasana khusyuk menyelimuti lapangan utama sejak fajar, ketika jamaah dari berbagai usia berdatangan mengenakan pakaian rapi dan membawa sajadah. Pelaksanaan salat yang dipimpin oleh imam Kaum Manonjaya berlangsung tertib, diiringi takbir yang menggema hingga ke pelosok kecamatan, menandai berakhirnya bulan Ramadan dan dimulainya hari kemenangan.
Pemerintah kecamatan menutup sebagian jalan menuju alun-alun dan menyiapkan fasilitas penunjang: pengeras suara untuk khutbah, tenda untuk lansia, serta pos kesehatan. Panitia gabungan—melibatkan aparat desa, pengurus masjid, dan relawan pemuda—mengatur alur kedatangan dan penyebaran jamaah agar pelaksanaan berjalan lancar. Petugas keamanan tampak sigap mengawal ketertiban, sementara petugas kebersihan siaga menjaga area tetap rapi pasca-salat.
Alun-alun Manonjaya bukan sekadar tempat shalat massal; lokasinya sarat dengan jejak sejarah keagamaan Kabupaten Soekapoera. Sejak era pendirian kabupaten, alun-alun ini menjadi titik sentral kegiatan keagamaan dan sosial. Alun-alun Manonjaya menjadi tempat bersatunya masyarakat sejak dulu. Tempat ini menjadi panggung penyampaian amanat ulama dan umaro yang punya peran penting dalam membentuk karakter religius masyarakat Soekapoera.
Tradisi berkumpul di alun-alun pada hari raya juga berakar pada kebiasaan komunitas pesantren dan ulama lokal yang, menjadikan lapangan ini sebagai ruang pendidikan informal. Di masa lalu, selain salat Ied, alun-alun menjadi tempat penyerahan zakat, pembacaan hikayat keagamaan, dan kegiatan penguatan bahasa serta budaya setempat. Warisan itu terus hidup: meski wajah kota berubah, nilai-nilai gotong royong, religiositas, dan penghormatan kepada umaro tetap menjadi benang merah yang menyatukan warga.
Pelaksanaan Idul Fitri tahun ini menampilkan kesinambungan antara tradisi lama dan dinamika modern. Teknologi digunakan untuk memperlancar koordinasi—pengumuman jadwal, petunjuk lokasi parkir, dan informasi arus lalu lintas disebarkan lewat media sosial dan grup komunitas—sementara tata laku ritual dan kearifan lokal tetap dipertahankan. Hal ini memperlihatkan kemampuan masyarakat Manonjaya menjaga tradisi sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Panitia dan pengurus masjid menekankan pentingnya meneruskan nilai-nilai yang terpatri dalam tradisi alun-alun: saling memaafkan, memperkuat jalinan sosial, dan menjaga kesejahteraan bersama. “Alun-alun ini menyimpan sejarah kita. Di sinilah nenek moyang kita berkumpul belajar agama, menolong sesama, dan membangun komunitas. Hari ini, kita mempertahankannya untuk anak cucu,” ujar seorang sesepuh kampung saat ditemui usai salat.
Meski berlangsung khidmat, panitia dan aparat juga mengingatkan jamaah untuk tetap memerhatikan protokol kesehatan bila diperlukan serta menjaga kebersihan lingkungan setelah kegiatan. Upaya ini merupakan bagian dari tanggung jawab kolektif agar alun-alun tetap menjadi ruang publik yang nyaman dan aman.
Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447H di Alun-alun Manonjaya bukan hanya ritual keagamaan; ia menjadi pengingat hidup tentang akar sejarah, nilai kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Dalam gegap gempita takbir dan keheningan doa, warga Soekapoera menunjukkan bahwa tradisi religius dapat hidup berdampingan dengan perubahan zaman, mempertahankan warisan luhur demi masa depan yang lebih bermakna.
Tepat di depan Alun-alun Manonjaya, berdiri kokoh Kaum Manonjaya (Mesjid Besar) yang dibangun pada masa R. Tumenggung Danoeningrat, Bupati Soekapoera IX. Pendirian Kaum ini seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan Kabupatian Soekapoera dari Leuwi Loa ke Harjawinangun (Manonjaya). Hal ini menunjukan dan menegaskan bahwa religius masyarakat Soekapoera sudah mengakar sejak dulu dan menjadi faktor utama dalam membangun wilayah.

Leave a Reply