Tidak jauh dari Area Makam Pasir Baganjing, terdapat makam Bupati Soekapoera II yang mungkin banyak diantara kita yang tidak tahu. Raden Djajamanggala menjadi Bupati Soekapoera kedua dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha II untuk menggantikan peran Raden Tumenggung Adipati Wirawangsa yang wafat pada tahun 1674.
Raden Djajamanggala menjadi Bupati Sukapura kedua tidak berlangsung lama. Ia wafat saat dalam perjalanan berkunjung menuju Mataram. Raden Djajamanggala dituduh telah menggoda selir sehingga di jatuhkan hukuman mati oleh Sultan Agung.
Merasa tidak berbuat, Raden Djajamanggala membela diri dan bersumpah “Aing te pernah hianat pantang jang ngahianat wirawangsa ngajarkeun panceg, aing teu sien paeh ie alam nu nyakseni lamun getih urang ngucur berarti aing ngalokakeun dosa jeng hianat, lamun geuti aing bodas eta nu jadi kabeneran urang lewih siap paeh jang harga diri “.
Terjemahan Sunda: “Saya tidak pernah khianat dan pantang untuk berkhianat. Wirawangsa (ayahnya) mengajarkan untuk teguh (konsisten dalam berpendirian), Saya tidak takut mati dalam kebenaran, alam akan menjadi saksinya, jika waktu dipancung, darah saya mengalir berwarna merah, maka saya telah melakukan dosa dan khianat. Tapi jika darah yang keluar adalah putih, maka saya tidak bersalah. Saya lebih siap mati untuk harga diri.”
Ketika dieksekusi, darah yang mengalir dari tubuh Raden Djajamanggala berwarna putih, sehingga ini membuktikan bahwa fitnahan yang di tudingkan tidak benar. Hal ini juga mengapa di sebut Dalem Tambela karna beliau mempertahankan harga diri nya melawan dan mencari kebeneran bahwa apapun fitnahan yang di tuding tidak benar.
Setelah dihukum mati jenazahnya dibawa dalam peti mati ke Sukapura. Seluruh rakyat Sukapura sangat berduka dan terpukul atas kepemimpinan menjadi Bupati Sukapura yang kedua dengan usia yang sangat singkat itu.
Refleksi dari cerita tersebut adalah seorang pemimpin harus memiliki integritas dan pendirian yang teguh. Keberanian Raden Djajamanggala yang teguh berdiri dalam kebenaran meski pati ancamannya, menjadi simbol harga diri seorang pemimpin yang mutlak.

Leave a Reply